Dewasa ini thrifting menjadi suatu trend di kalangan anak muda. Belanja barang bekas memiliki reputasi baru yang awalnya terkesan tidak elit menjadi suatu tren yang dilakukan banyak orang. Kira- kira apa yang membuat masyarakat berpaling dan menggemari thrifting?
Masyarakat Indonesia sebenarnya tidak lagi awam dengan kegiatan berbelanja barang bekas. Sejak dulu berbelanja barang bekas atau secondhand menjadi alternatif membeli pakaian dengan kondisi yang baik dan harga yang relative murah.
Thrifting menjadi populer di sosial media dan mulai bermunculan banyak bisnis online yang menjual berbagai macam pakaian secondhand. Banyak public figure yang mulai menggunakan pakaian bekas yang menciptakan gaya yang terkesan antik dan otentik.
Pasar-pasar besar yang dikenal menjual barang bekas kini menjadi tempat yang sering dikunjungi anak muda. Pakaian yang ditemukan tidak pasaran dan unik menjadi daya jual dan pesona tersendiri bagi konsumen.

Illustrasi: Pingpoint
Dengan berbagai banyak kelebihan dari melakukan thrifting, mulai banyak yang berpaling dari industri fashion yang terdapat di mall dan pertokoan atau biasa disebut fast fashion. Terlebih lagi, ada banyak gerakan untuk tidak lagi berbelanja di fast fashion.
Fast fashion merupakan industri pakaian yang menjual pakaian dengan harga yang terjangkau dan memiliki brand yang terkenal. Namun ada banyak kekurangan dan bahaya dari efek penggunaan pakaian yang berupa fast fashion ini.
Fast fashion berdampak negatif bagi lingkungan karena produksinya cepat dan banyak namun kualitas yang dimiliki kurang awet. Hal ini menyebabkan sampah pakaian yang terus menumpuk. BBC menulis timbulan sampah tekstil tak kurang dari 92 juta ton per tahun.

Illustrasi : CBC
Menurut polling kecil yang saya adakan di Instagram pribadi saya, 28 orang sudah berpaling melakukan trifting sebagai sumber pakaian mereka. Namun 20 orang masih mengandalkan fast fashion. Bisa dibilang trifting lebih unggul di kalangan anak muda.
Masyarakat memiliki pandangan baru mengenai pakaian seconhand adalah sesuatu yang positif karena ramah lingkungan dan menciptakan gaya berpakaian yang otentik. Ditengah masa pandemik ini ada banyak toko online yang menjual barang secondhand.
Berbelanja secondhand tidak hanya tepat untuk berhemat tapi juga baik untuk lingkungan. Melakukan thrifting juga memiliki pesona tersendiri. Apakah kamu sudah pernah ber-thrifting ria?
Oleh: Renata (LG 11)
Editor: Nisrina Salsabila (LG 11)
