Pertanyaannya, mengapa kita manusia merupakan makhluk yang penuh ambisi namun sangat pasrah?
Berlatar tahun 1940-an, Anthony Doerr dalam bukunya menyampaikan salah satu tragedi kelam sejarah dunia dengan tetap berpegang teguh pada harapan. Marie-Laure merupakan gadis biasa yang tinggal berdua dengan ayahnya. Penglihatannya akan dunia yang selalu ia kagumi, diambil dengan satu hentakan yang berbeda. Ia kini melihat dunia dengan caranya sendiri, membayangkan didalam otaknya bagaimana versi warna miliknya.
Werner Pfenning adalah yatim piatu di Jerman dengan satu miliar pertanyaan di otaknya. Bagaimana suara bekerja, apa yang disebut dengan gelombang, dan mengapa ia beserta adiknya Jutta harus menghabiskan waktu berjalan kearah masa depan yang suram. Ketika pilihan disuguhkan di depan matanya, Werner harus memilih antara adiknya atau harapan tentang masa depan yang diimpikan. Doerr mendeskripsikan Werner dengan rambut yang seputih salju, memikirkan setiap saat apa yang membuat ia tidak berani melakukan hal yang benar.
Marie-Laure yang malang. Hidupnya yang sial. Werner yang tidak punya pilihan atau ia hanya tidak berani untuk berteriak dan memilih? Bagaimana manusia dapat membuktikan manusia lain bahwa yang ia inginkan didalam hidup ini adalah kebebasan bersuara, kesehatan, atau hanya kabar dari ayah yang sekarang entah dimana ditahan. Doerr memberikan kesan menyentuh mengenai apa yang terjadi dibalik gelora perang. Bagaimana perang menghancurkan para pemimpi, menghapuskan harapan dan memaksa manusia menjadi sistem tanpa cacat.
All The Light We Cannot See menceritakan tentang peristiwa pengeboman di kota Saint-Maulo, Prancis pada tahun 1944. Alurnya yang campuran memperkenalkan kita lebih dalam kepada masing-masing tokoh di cerita ini, membuat kita berkesempatan untuk mencoba memahami apa yang membuat mereka hidup. Seperti yang dikutip dari buku “Apakah kau tidak ingin hidup sebelum mati?” Benarkah untuk Maurie-Laure itu adalah novel braile dan siputnya?
Bagaimana dengan Werner dan suara laki-laki yang mengajarkanya sains di radio yang ia dengar bersama adiknya?
Penulis: Ghaida Nur Hafizhah/LG 11
Editor: Myriam Amanda/LG 10
