Konsep sampah sebagai bahan buangan manusia sehari-hari secara berkala menjadi isu yang tidak dapat terlepas dari media Indonesia. Isu ini tentunya didasari oleh fakta bahwa Indonesia menyandang posisi kedua sebagai penyumbang sampah terbesar di dunia setelah China. Pada tahun 2020 tercatat oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa Indonesia memproduksi sebanyak 68 juta ton sampah dengan 15% sampah merupakan sampah plastik. Sebagai sampah yang tidak mungkin terurai, sampah plastik pada akhirnya akan terkumpul di laut dan mencemari laut juga berbagai organisme yang hidup didalamnya.
WEF mengeluarkan laporan yang menyatakan bahwa tahun 2050 jumlah plastik di laut akan lebih banyak dibanding ikan, dimana laporan tersebut diambil dari yayasan milik peraih gelar kehormatan ‘Dame’ Kerajaan Inggris, Ellen MacArthur. Menurutnya, salah satu upaya pencegahan adalah terlaksanannya kolaborasi dari pelaku industri dan masyarakat dalam pengurangan dan penanganan sampah.
Bersamaan dengan ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia menyatakan visi besar mereka untuk mengurangi sampah di laut hingga 70% pada tahun 2025. Berbagai regulasi diterapkan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan ini. Salah satunya adalah upaya untuk mengubah konsep ekonomi linear menjadi ekonomi sirkular dalam pengolahan sampah plastik di Indonesia.
Ekonomi sirkular adalah sistem untuk menghindari konsep take, make, and dispose yang diusung oleh ekonomi linear. Ekonomi sirkular memaksimalkan sumberdaya, nilai produk, dan material dari produk agar bertahan selama mungkin di alam sehingga konsep sampah sebagai sebuah barang yang harusnya dibuang dan ditumpuk di TPA terhapuskan. Pemanfaatan sampah dengan mempertahankan nilainya diharapkan dapat menjadi solusi yang mencegah melonjaknya jumlah sampah yang terjadi pertahunnya.
Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa TPA di Indonesia sudah tidak dapat menampung sampah pada 2-3 tahun kedepan. Dengan pembuangan sampah rumah tangga tanpa dipilah yang berjumlah banyak dari masyarakat dan presentase yang rendah dalam program daur ulang sampah, TPA Indonesia mengalami krisis. Sebuah kenyataan yang seharusnya cukup menjadi bahan bakar penyemangat dalam memaksimalkan upaya mengurangi dan menangani sampah-sampah di Indonesia dengan program daur ulang.
Dengan ini, kebijakan ekonomi sirkular merupakan solusi bijak yang jika berhasil diterapkan akan memunculkan pengembangan yang berkelanjutan sekaligus memberikan kehidupan baru pada sampah,. Dalam jangka panjang ekonomi sirkular akan mampu untuk menguntungkan alam dengan tidak mengambil sumber alam dan memanfaatkan apa yang tersisa. Danone menjadi salah satu industri yang sudah mengaplikasikan konsep ekonomi sirkular dalam produksinya. Pengaplikasianya adalah dengan menggunakan hasil daur ulang botol PET yang sulit untuk dihancurkan untuk dimanfaatkan lagi menjadi botol air minum kemasan. Penghancuran botol PET untuk dijadikan sumber utama dalam pembuatan botol kemasan ini lah yang nantinya secara berkelanjutan akan menguntungkan lingkungan.
Program ini penting untuk dipahami maksudnya oleh masyarakat luas, karena keberhasilannya membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Permasalahan yang perlu di garisbawahi adalah kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemilahan sampah. Sampah rumah tangga merupakan sampah dengan emisi karbon yang besar, dan pemilahan sampah dari rumah akan berdampak besar dalam alur pemanfaataan sampah itu sendiri. Sampah yang sudah dipilah dari rumah akan mempercepat pemanfaatannya kembali untuk industri daur ulang. Ini juga menyebabkan pengurangan sampah yang tercampur di pembuangan akhir, kemudian tidak dapat didaur ulang.
Budaya memilah ini sayangnya tidak umum dikalangan masyarakat Indonesia. Padahal pemilahan yang bersumber dari rumah merupakan kunci masyarakat lebih peduli dengan kondisi sampah di lingkungan. Secara tidak langsung, dengan memilah kita sudah dapat membantu banyak pihak termasuk industri daur ulang untuk mendapatkan bahan baku daur ulang. Regulasi mengenai pemilahan sampah ini sudah seharusnya diberlakukan dengan lebih ketat agar masyarakat sadar akan urgensi keaadaan sampah di Indonesia.
Keberhasilan ekonomi sirkular memang tidak dapat dicapai dengan waktu singkat. Butuh proses yang lama dan bantuan banyak tangan untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. Pembuatan produk ramah lingkungan pada kenyataannya bukan hal yang asing ditemui sekarang. Sudah banyak produk-produk tersebut masuk ke pasar swalayan dan dapat dijumpai juga diketahui. Permasalahan muncul karena mengetahui produk itu hadir tidak menjamin masyarakat memilih produk tersebut dibandingkan dengan produk yang telah mereka gunakan untuk waktu yang lama. Berhasilnya industri daur ulang dan aplikasi ekonomi sirkular pada penanganan sampah tentunya harus disertai dengan masyarakat yang membeli produk daur ulang itu sendiri.
Sosialisasi mengenai keamanan produk yang sering dipertanyakan nyatanya masih sangat dibutuhkan untuk mengedukasi masyarakat. Mendesaknya Indonesia untuk mencapai visi besar dalam mengurangi sampah mewajibkan siapapun kita yang memiliki informasi mengenai ini, untuk mengedukasi masyarakat dalam bentuk apapun, dari manapun. Sampah rumah tangga memang harus menjadi tahap awal kita untuk ikut serta dan terlibat dalam industry daur ulang. Namun suara kita untuk mengedukasi tidak harus dimulai dirumah. Mulailah darimanapun, mulailah dengan siapapun. Keluarga mungkin menjadi orang terdekat untuk mendengar suara, namun tulisan tidak mengenal suara. Suarakan, tuliskan, dan sebarkan ironi beserta solusi untuk kita Indonesia melangkahkan kaki dalam melindungi manusia, lingkungan, dan masa depan.
Oleh: Ghaida Nur / LG 11
Editor: Myriam Amanda / LG 10
Persma Genera 2021
