Site Loader

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika di tahun 2010 melaporkan bahwa dari 13,1 juta ton produk tekstil yang dibuang, hanya 15 persen yang dapat didaur ulang. Hal tersebut menyebabkan menumpuknya sampah pakaian. Zat kimia yang terkandung dari bahan pakaian juga dapat mencemari tanah dan air.

Limbah tekstil dapat meningkatkan jumlah gas metana dan mencemari air bersih sebanyak 17-20 persen. Hal tersebut terjadi karena material limbah tekstil sangat sulit untuk terurai. Bukti nyata diwujudkan dengan tercemarnya Sungai Citarum, sungai yang mendapatkan predikat paling tercemar di dunia.

Banyak dari kita yang mungkin acuh, tetapi ada segelintir orang yang masih peduli. Salah satunya Suatu Hari, sebuah pergerakan peduli lingkungan, khususnya pada limbah tekstil, juga sebuah wadah untuk masyarakat yang tidak ingin pakaian bekasnya dibuang begitu saja.

Berawal dari keinginan membuat thrift market dan antusiasme tinggi terhadap fashion, Rizqy Riza Aulia dan beberapa orang temannya akhirnya membuat sebuah media yang tidak hanya menjadi thrift market, tetapi juga memberikan dampak untuk dunia limbah tekstil. Pada tahun 2019 lahirlah Suatu Hari.

Untuk menggenapkan tujuannya, Suatu Hari membuat beberapa kegiatan seperti donasi pakaian bekas layak pakai, workshop, thrift market, dan juga beberapa kegiatan yang berkolaborasi dengan komunitas lain dengan tujuan yang sama. Tak lupa juga Suatu Hari berkoar tentang isu-isu penumpukan limbah tekstil.

Suatu Hari membuka donasi pakaian bekas layak pakai yang akrab disebut dengan “Pindah Tangan” merupakan wadah bagi masyarakat umum untuk berkontribusi secara langsung dalam meminimalisasi penumpukan limbah tekstil. Sebagian dari barang yang didonasikan akan dijual kembali pada “Parade Garasi”.

Kegiatan Parade Garasi. Sumber: koleksi pribadi Rizqy Riza Aulia



Berkolaborasi dengan beberapa thrift market lainnya, Suatu Hari akhirnya dapat menyelanggarakan Parade Garasi. Pada kegiatan ini, konsumen diharapakan dapat menikmati pengalaman berbelanja baju-baju bekas, kamera analog bekas, tanaman hidup seperti kaktus, serta makanan dan minuman yang nikmat.

Kolaborasi Suatu Hari dan Junk Mobile. Sumber: koleksi pribadi Rizqy Riza Aulia



Tidak lupa dengan tujuannya, Parade Garasi mengharapkan kita untuk membawa tote bag dan alat makan masing-masing sebagai usaha untuk mengurangi limbah plastik.

Ada pula kegiatan yang rutin dilakukan satu kali dalam sebulan yang biasa disebut Kelas Kecil, yakni sebuah workshop yang berkolaborasi dengan seniman-seniman lokal yang tentunya mengedepankan penggunaan kembali baju-baju bekas. Baju-baju bekas tersebut dihias dengan membuat gurat-guratan cat akrilik di atasnya hingga menggunakan teknik tie dye.

Workshop Kelas Kecil. Sumber: koleksi pribadi Rizqy Riza Aulia



Sayangnya, kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan untuk saat ini tidak dapat beroperasi secara maksimal karena adanya pandemi yang mengharuskan kita lebih sering bekerja dari rumah.

Namun, Suatu Hari tetap berusaha untuk menyuarakan tujuannya. Suatu Hari berkesempatan untuk berbincang dengan Ican Harem, seorang seniman yang berkiblat di seni rework fashion and garment dengan menggunakan platform online. Melahirkan pakaian statement piece dan one of a kind sekaligus mengurangi limbah tekstil.

“Untuk masalah zero waste kita gak bisa maksa orang, tapi seengaknya sadar aja gitu bahwa bumi ini gak baik-baik aja.” mengutip dari sosok inspirasional di balik hadirnya s.u.a.t.u.h.a.r.i di tengah-tengah kita.

Kesadaran akan bumi ini tidak baik-baik saja sebaiknya dimulai dari diri sendiri. Dengan membawa botol minum dan alat makan dari rumah, mengkreasikan kembali baju-baju lawas, mendonasikan baju bekas daripada membuangnya, dan masih banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk sedikit demi sedikit mengurangi kerusakan pada bumi kita.

Penulis : LG 12 / Nafeesa Zahra An-naafi

Editor : LG 12 / Nurhaliza Chairindah

Persma Genera 2021

Post Author: Persma Genera

×