Sudah setahun lebih seluruh mahasiswa di Indonesia melaksanakan pembelajaran jarak jauh dan sudah setahun juga kita tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan orang banyak. Namun, apakah semua ini merupakan sebuah penghalang kita dalam melakukan interaksi sosial?
Jawabannya mungkin iya, mungkin tidak. Selama pandemi, mahasiswa masih dapat berinteraksi sosial secara daring menggunakan aplikasi meeting conference atau aplikasi chatting sehingga mahasiswa masih dapat menjalin suatu hubungan sosial dengan rekan mahasiswa lainnya.
Namun, kita tidak mampu berinteraksi secara langsung. Sehingga hal ini akan menimbulkan suatu pertanyaan baru. Apakah hubungan kita dengan rekan mahasiswa lainnya akan tetap terjalin dengan baik? Ataukah dengan adanya pandemi ini maka kita tidak dapat menjalin sebuah relasi atau hubungan sosial tertentu?
Selama pandemi masih belum berakhir, kita harus melakukan sesuatu agar dapat memastikan interaksi sosial dengan rekan mahasiswa lain tetap terhubung dengan baik meskipun berada di tempat yang saling berjauhan dengan melakukan pola komunikasi yang efektif.
Komunikasi adalah salah satu kunci penting dalam menjalin sebuah hubungan dalam interaksi sosial. Dalam Buku “The Process of Communication” karya Berlo tahun 1960, komunikasi efektif adalah terjadinya perubahan perilaku yang menyebabkan terjalinnya relasi yang baik antara pemberi dan penerima pesan melalui pertukaran informasi, ide, dan perasaan.

https://www.thoughtco.com/thmb/lVJYvhXOIAqKGy7GgY5NmbpBdRk=/1500×1000/filters:fill(auto,1)/What-Is-Communication-1689877-final- 156105491ad948eda15b0960fd2b8c2b.png
Cara pertama yang dapat kita gunakan menurut seorang psikolog bernama Dian Wisnuwardhani adalah dengan belajar mendengarkan orang lain. Kita harus mampu memahami emosi lawan bicara sehingga lawan bicara akan merasa lebih baik dan pola komunikasi akan menjadi lebih baik. Akan terjadi keseimbangan emosi sehingga tingkat stres yang dialami kita, sebagai mahasiswa akan menjadi lebih rendah.
Cara kedua adalah dengan berusaha dapat memahami komunikasi non-verbal. Seringkali kita sebagai mahasiswa merasa stres dikarenakan tugas yang diberikan selama pandemi lebih banyak daripada sebelum pandemi. Kebanyakan mahasiswa akan mengeluh saat dihadapkan dengan masalah ini.
Tak jarang mahasiswa akan mengalami kecemasan, ketakutan, dan stres tinggi ketika dihadapkan dengan keadaan sosial sekarang. Sehingga seringkali emosi tersebut akan mempengaruhi interaksi sosial kita dengan lawan bicara. Tentunya, hal ini akan mempengaruhi kestabilan emosi sehingga ‘efek domino’ pun mungkin akan terjadi.
Salah satu solusi adalah dengan memberikan waktu untuk kita dalam mencerna pernyataan yang diberikan oleh lawan bicara sebelum memberikan respon. Waktu tersebut digunakan untuk memikirkan respon yang tepat untuk memberikan klarifikasi, menyampaikan pesan, dan menunjukan respon non-verbal.
Hal ini akan menciptakan suasana yang tenang di kedua pihak, baik lawan bicara maupun kita sebagai pembicara. Cara terakhir adalah dengan menjadi asertif. Dalam masa pandemi, kita perlu bersikap asertif, yang berarti kita dapat mengekspresikan diri secara bebas, terbuka, dan jujur kepada lawan bicara. Bersikap asertif perlu dilakukan untuk dapat menjaga kestabilan emosional.
Keadaan pandemi ini memaksa mahasiswa untuk melakukan interaksi sosial jarak jauh. Namun, hal tersebut tidak dapat dijadikan suatu alasan untuk tidak melakukan suatu interaksi sosial. Perlu dilakukan pola komunikasi efektif di masa pandemi COVID-19 ini agar kita, sebagai mahasiswa tetap dapat melakukan interaksi sosial dan menjaga kesehatan mental kita masing-masing.
Reporter: LG 11/ Naomi Anastasya
Editor: LG 12/ Raihan Farros
Persma Genera 2021
