Salah kaprah oleh orang-orang terhadap penyebutan generasi masih kerap terjadi, salah satunya adalah untuk orang yang lahir pada rentang tahun 1997-2012. Penyebutan terhadap generasi tersebut biasa disebut generasi millennial, padahal nyatanya generasi tersebut adalah Generasi Z atau iGeneration, dan millennial lahir sebelum gen Z. Mereka sekarang mayoritas sedang mencari jati diri karena berusia 9-24 tahun.
Generasi Z disinyalir mampu menjadikan teknologi sebagai kawan dalam kehidupan sehari-hari yang sudah pasti perubahan ke arah lebih baik berada di tangan mereka. Kehidupan tanpa teknologi tampaknya mustahil bagi generasi Z, karena semua pekerjaan sehari-hari mereka memerlukan teknologi dan internet, maka dari itu penyebutan lainnya adalah iGeneration.
Digitalisasi juga mampu membuat para generasi Z tidak pernah merasa terasingkan dalam kehidupan, pasalnya media sosial membuat generasi Z dan orang lainnya mampu berkomunikasi satu sama lain tanpa mengenal jarak. Pemikiran yang maju dan tindakan yang berani dinilai menjadi modal besar bagi generasi Z untuk menjadi pemimpin. Banyak inovasi dan ide brilliant yang dikeluarkan oleh para generasi Z serta suatu sikap berani juga pernah ditunjukkan oleh para generasi Z, sebut saja demo terhadap pemerintah dengan tajuk #ReformasiDikorupsi merupakan sikap berani generasi Z terhadap rezim yang dinilai mengebiri reformasi.
Mengapa demikian bisa terjadi? Orang-orang generasi Z menilai bahwa pemahaman dan idealisme menjadi modal besar bagi anak muda, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Leon Alvinda Putra dalam wawancaranya dengan Najwa Shihab mengungkapkan bahwa “Masih muda jangan mau netral-netralan, harus berani bersikap dan berpihak, berpihak pada kebenaran”. Hal tersebut berarti bahwa masa muda terlebih generasi Z yang hidup berdampingan dengan kemajuan teknologi jangan mau bersikap aman, namun harus berani bertindak kepada kebenaran.
Tak hanya berani dalam bertindak, namun semua itu juga harus dipikirkan dalam segala aspek dan segala sudut pandang. Hal tersebut juga menjadi modal bagi para generasi Z dalam menentukan sikap. Proaktif menjadi dasar mereka dalam memilih sikap, lahir dengan naungan kehidupan teknologi membuat generasi Z harus berpikir terhadap perilaku dan tindakan yang akan diambil, pasalnya tagline ”jejak digital jahat” sangat benar kebenarannya, karena sampai kapan pun pengambilan langkah yang salah dalam menyikapi suatu hal akan terus diingat oleh masyarakat luas, namun bukan berarti generasi Z tidak mau ambil risiko.
Dampak tersebut juga terasa terhadap banyak perusahaan yang haus pemikiran anak muda guna kemajuan perusahaannya karena inovasi yang dikeluarkan selalu tak biasa. Pembaharuan yang selalu diinginkan oleh anak muda ditampung baik oleh beberapa perusahaan.
Dibalik keindahan teknologi, tampak ada lorong hitam menakutkan jika para pengguna tidak mampu menggunakannya dengan bijaksana. Haus akan tantangan yang menjadi ciri khas generasi Z dapat mampu menjadi boomerang jika tidak digunakan dengan baik. Penculikan, pemerasan bahkan kejahatan lain masih mengintai lewat kemajuan teknologi, hal tersebutlah yang harus diwaspadai oleh generasi Z dengan berpikir progresif dan bersikap proaktif agar terhidang dari kubangan hitam dunia teknologi. Sikap berani dan kemauan besar akan mengantarkan generasi Z dalam membawa dunia ke arah yang lebih baik lagi.
Oleh:
Afif Ahmad Rifai
Universitas Padjadjaran
Juara 2 Lomba Artikel Generaction 2021: Elysian

