Dewasa ini tentunya kehidupan manusia tidak luput dari yang namanya teknologi. Teknologi memang memberikan dampak positif untuk memudahkan manusia dalam segala aspek, namun tentunya teknologi juga memberikan dampak negatif yang meresahkan, salah satunya adalah hoax. Hoax merupakan penyebaran informasi yang belum tervalidasi dan diketahui faktanya, hal ini menjadi ancaman nyata yang dihadapi oleh generasi muda dalam menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) yang dapat dengan mudah untuk mengakses jaringan informasi di seluruh dunia.
Generasi muda yang membaca suatu informasi yang beredar biasanya menjadi pasif tanpa literasi lebih lanjut, sehingga pembaca hanya menerima mentah-mentah informasi tersebut. Hal ini dibuktikan dari survey LIPI mengenai tingkat kepercayaan berbagai kalangan terhadap berita yang beredar di media, yaitu pemulihan PKI di Indonesia, kriminalisasi ulama yang di desain oleh pemerintah, dan terdapatnya jutaan buruh asal China yang bekerja di Indonesia. Meskipun fakta dan data mengenai ketiga berita tersebut belum jelas, namun isu ketiga berita ini dapat menjadi sangat berbahaya jika tidak dikawal, karena suatu kebohonganjika dikatakan secara berulang-ulang dapat menyebabkan kebohongan tersebut menjadi suatu kebenaran.

Sumber: Survey LIPI 2019
Dalam memerangi hoax dapat dimulai dengan penataan pola pikir yang lebih progresif pada generasi muda. Maksud dari berpikir progresif adalah selalu berpikiran maju dan berproses untuk mencapai hal sempurna, sempurna dalam hal kematangan emosi maupun dari cara berpikir. Pola pikir yang progresif dapat dibentuk dengan membiasakan diri dengan memperbanyak literasi. Generasi muda perlu membiasakan diri untuk mengasah pikiran dan akalnya dengan berbagai literatur. Banyaknya literasi dapat membuat para generasi muda untuk lebih pintar dalam membaca dan mengolah suatu informasi, sehingga generasi muda bangsa ini tidak menjadi kaum sumbu pendek yang dengan mentah-mentah percaya segala informasi tanpa divalidasi fakta dan datanya.
Melalui artikel ini saya mengajak para generasi muda agar menjadi pemikir progresif yang mampu untuk memberantas permasalahan hoax maupun suatu pengalihan isu. Pola pikir progresif dapat membuat kalian untuk lebih berpikir kritis dalam menanggapi penyebaran informasi, baik informasi palsu maupun suatu pengalihan isu dari informasi tersebut. Oleh karena itu, jadilah generasi muda anti hoax yang memiliki pola pikir progresif untuk lebih berpikir maju dan cerdas dalam mengolah suatu informasi demi Indonesia yang bebas hoax.
Referensi:
Fresky, M. A. (2019). Jadilah Pemikir Progresif. Diakses dari https://www.bengkulutoday.com/jadilah-pemikir- progresif#:~:text=Yaitu%20suatu%20pikiran%20yang%20mampu,macam%20negara %20di%20dunia%20ini pada tanggal 26 September 2021.
LIPI. (2019). Hoax dan Misinformasi Jadi Tantangan Media Sosial di Indonesia. Diakses dari http://lipi.go.id/berita/Hoax-dan-Misinformasi-Jadi-Tantangan-Media-Sosial-di- Indonesia/21910 pada tanggal 26 September 2021.
Meilinda, N., Malinda, F., & Murti, K. (2016). Generasi Anti Hoax (Sosialisasi Literasi Media). Jurnal Pengabdian Sriwijaya: 382-388.
Nadzir, I., Seftiani, S., & Permana, Y. S. (2019). Hoax and Misinformation in Indonesia: Insights from a Nationwide Survey. PERSPECTIVE, No. 92: 1-12.
Oleh:
Alfurqon Faiz
Universitas Padjadjaran
Juara 3 Lomba Artikel Generaction 2021 : Elysian

