Site Loader

Toxic masculinity  didefinisikan sebagai pemikiran sempit yang beredar di lingkungan masyarakat tentang bagaimana seorang laki-laki harus berperilaku.

Perilaku yang dimaksud adalah perilaku yang tumbuh dari pemahaman masyarakat yang percaya bahwa laki-laki harus berperilaku tangguh dan maskulin, tidak menunjukan perasaan atau sisi emosionalnya, dan memiliki sifat yang identik dengan kekerasan.

Arti lain toxic masculinity juga dibahas dalam sebuah studi yang dimuat dalam Journal of Psychology. Jurnal ini mengartikan toxic masculinity sebagai kumpulan sifat konstruksi sosial yang digunakan untuk mendorong dominasi, kekerasan, homofobia, dan perendahan terhadap perempuan.

Jurnal tersebut membuktikan bahwa hingga saat ini dalam lingkungan masyarakat terdapat banyak laki-laki yang percaya bahwa ia tidak diperbolehkan menangis, dapat menormalisasi tindakan kekerasan, tidak melakukan pekerjaan “rumahan” karena kegiatan tersebut hanya dilakukan oleh perempuan, dan sebagainya.

Pemahaman tersebut muncul karena sejak dulu masyarakat terlalu membuat batasan tentang sikap, pekerjaan, atau hobi terhadap laki-laki maupun perempuan.

Kampanye Melawan Toxic Masculinity oleh Renaissance Youth Leaders Forum (RYLF) Universitas Silliman, Filipina. Sumber : inet.detik.com


Ketidaksanggupan dalam memenuhi ekspektasi-ekspektasi yang ada akhirnya memicu aksi bullying dengan memberikan julukan ‘bukan laki-laki sejati’ kepada laki-laki yang dianggap tidak dapat memenuhi sifat-sifat maskulinitas.

Hal ini tentunya berbahaya bagi kesehatan mental, baik laki-laki maupun perempuan, karena membatasi sifat seseorang dalam bermasyarakat. Hal ini dapat memicu terjadinya konflik, baik di dalam diri laki-laki itu sendiri ataupun lingkungannya.Bahkan Toxic masculinity dapat menyebabkan beban terhadap laki-laki jika tidak memenuhi standar yang diyakini oleh masyarakat maupun lingkungannya.

Shepherd Bliss, seorang pakar psikologi, pernah mengatakan bahwa toxic masculinity ini dapat merusak mental seorang laki-laki hingga menyebabkan bunuh diri akibat depresi.

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2016 tingkat laki-laki yang bunuh diri akibat toxic masculinity menduduki angka dari 5 sampai 9 dari 100,000 populasi.

Upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi kasus ini adalah memberikan edukasi gender pada anak-anak dari usia dini. Edukasi ini berupa pemberian pemahaman mengenai maskulinitas dan feminitas dan diharapkan memberikan ruang yang lebih luas untuk memperlihatkan sisi emosional tanpa adanya tekanan-tekanan yang diberikan oleh masyarakat yang dapat memberikan dampak buruk bagi psikologis dan mental anak.

Oleh : LG.12 / Shiva Nadiya Sabriyati

LG.12 / Khantsa Qonita

Editor : LG11 / Sora Maria Natalia

Post Author: Persma Genera

×