Multitasking adalah istilah yang sering digunakan ketika seseorang mengerjakan banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan. Di kondisi pandemi seperti ini, banyak pula orang yang melakukan multitasking. Hal ini menuai banyak pendapat pro dan kodan kontra dengan dilakukannya multitasking.
Multitasking terlihat seperti cara yang baik untuk menyelesaikan banyak hal sekaligus. Namun, pada kenyataannya dengan melakukan banyak pekerjaan dalam waktu bersama, otak kita akan terbagi fokusnya dan akan menurunkan konsentrasi kita seiring berjalannya waktu karena memakan energi dan waktu yang cukup banyak.
Hal tersebut juga sudah banyak disebutkan dalam beberapa penelitian bahwa otak kita tidak sebaik yang kita pikirkan, yaitu dapat mengerjakan semua tugas. Faktanya, multitasking dapat menghambat produktivitas dengan mengurangi pemahaman, perhatian, dan kinerja secara keseluruhan.
Apakah kalian juga tahu ketika kita sering berganti fokus dari satu layar ke layar yang lain dapat menyebabkan otak kita menjadi terhambat dan hanya sedikit informasi yang diserap? Untuk pemahaman lebih lanjut, University of Copenhagen, Denmark telah melakukan penelitian mengenai multitasking.
Selain itu ketika seseorang sudah merasa kewalahan mengerjakan banyak pekerjaan di waktu bersamaan, ini akan membuat orang tersebut stress, burnout, dan kesehatan mentalnya dapat terganggu. Otak kita hanya memiliki kapasitas terbatas untuk memproses informasi dan jika kita ingin melakukan pekerjaan terlalu banyak pada waktu yang sama secara teratur, kemungkinan besar otak kita tidak akan lagi bekerja properti pada satu titik waktu.
Dampak lainnya yaitu orang-orang akan sering menetapkan prioritas yang salah dalam hidup mereka. Misalnya, ada beberapa tugas yang jauh penting, mereka mungkin tidak akan bisa lagi mengenali mana prioritasnya karena ada metode multitasking ini. Mereka beranggapan bahwa semua dapat diselesaikan dalam waktu bersamaan.
Pada sisi lain, berdasarkan sebuah studi seorang profesor dari UNC Kenan-Flagler Business School, ternyata multitasking dapat berdampak baik bagi kreativitas. Hal ini dibuktikan dengan melakukan simulasi yang menempatkan 240 pelajar pada bilik dan memberi mereka tugas yang harus dikerjakan dengan komputer personal mereka.
Sebagian pelajar ditugaskan untuk mendengarkan konferensi dan mengirim e-mail satu persatu secara bergantian, sedangkan sebagian lainnya ditugaskan untuk melakukan kedua hal tersebut secara bersamaan.
Setelah tugas tersebut selesai, mereka diberikan pertanyaan untuk mengetes pemikiran kreatif mereka, seperti menyebutkan apa saja kegunaan batu bata. Hasilnya, pelajar yang multitasking lebih kreatif dan menghasilkan lebih banyak ide terhadap pertanyaan tersebut dibanding pelajar yang tidak multitasking.

Melalui beberapa pengulangan simulasi dan penelitian, akhirnya profesor dari UNC Kenan-Flagler Business School tersebut mulai menemukan hubungan multitasking dengan tingkat kreativitas. Diduga bahwa dengan multitasking kita dapat mengaktifkan fleksibilitas kognitif yang akan berdampak pada kreativitas seseorang.
Pada akhirnya, memang multitasking tidak dapat dilakukan secara terus menerus dan diaplikasikan pada segala jenis pekerjaan. Akan tetapi, jika multitasking dilakukan untuk pekerjaan dan di waktu yang tepat, hal ini justru akan memberikan dampak positif bagi diri kita.
Reporter: LG/12 Attaya Salsabilla dan LG/12Farahdilla Maulida
Editor: LG/12 Andara Melati Rahadian
