LALALA Festival adalah event musik yang berlabelkan ‘Internasional Forest Music Festival’. Oleh karena itu, event ini diadakan di Lembang, tepatnya di Orchid Forest, Cikole. LALALA Festival menghadirkan line up artis dan band yang luar biasa, tidak hanya mengundang artis dan band dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. LALALA Festival tahun ini (23/02/2019) merupakan perhelatan festival tersebut untuk ketiga kalinya, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2016 dan 2018.
Setiap tahunnya LALALA Festival selalu memberikan kesan tersendiri pada penonton, panitia, maupun artis dan band yang terlibat. Event ini menjadi menarik karena konsep acaranya yang berada di hutan, dekorasi yang unik, food stand yang menggugah selera, serta deretan artis dan band papan atas yang mengisi acara. Tahun 2019 ini, LALALA Festival mengundang beberapa artis dan band luar yang sangat keren! Ada Honne, The Internet, Crush, Jeremy Passion, Astronomy, dan sederet musisi keren lainnya. Sedangkan artis dan band Indonesia di antaranya Fourtwnty, Sheila On 7, Ardhito Pramono, dan sederet artis lainnya.

(Sumber: Nabilla LG 9)
Akan tetapi, di samping kesuksesan dari acara LALALA Festival, ternyata sebagian penonton memiliki beberapa kritik dan pendapat mengenai event tersebut. Mereka menyarankan untuk melakukan beberapa perbaikan, meskipun ada juga penonton yang memberikan apresiasi kepada para panitia dan event tersebut. Salah satu hal yang sangat disayangkan dari event ini adalah timbulnya banyak sampah yang berserakan karena kurang terlihatnya trash bag atau tempat pembuangan sampah lainnya. Banyak sampah plastik bekas jas hujan di sekitaran panggung, di jalanan, bahkan di atas rumput.
Indyra, salah seorang volunteer LALALA Festival menceritakan bahwa konsep event tersebut sudah sangat baik, bahkan ia mempersiapkan semua keperluannya dengan membuat PPT sebelum memulai jobdescnya saat Hari-H. Indy mengatakan bahwa ia sangat senang dapat berpartisipasi di event tersebut dan bertemu dengan teman – teman baru. Namun, Indy dan teman – teman PIC (Person In Charge) di bagian Public Relations hanya mendapat kesempatan 2 kali untuk rapat bersama panitia lainnya. Indy merasa LALALA Festival tahun ini secara keseluruhan kurang persiapan untuk ‘menghalau’ puluhan ribu penonton. Hal ini terjadi karena penonton LALALA Festival tahun ini melebihi target awal penjualan.
LALALA Festival tahun lalu dihadiri oleh sekitar 6.000 penonton, sedangkan pada tahun ini penontonnya membeludak sekitar 18.000 sampai 21.000 penonton. Pada awal kemunculannya, LALALA Festival memang mendapatkan banyak kritik, saran dan evaluasi dari penonton. Maka dari itu, pada tahun 2018 LALALA Festival melakukan beberapa perubahan dan mengalami peningkatan yang cukup baik. Namun pada tahun 2019, event ini kembali mendapatkan banyak kritik dan saran mulai dari open gate, sampai akhir acara berlangsung. Keluhan lainnya yaitu jarak antara stage yang cukup jauh dengan pintu masuk. Jalanan yang harus dilewati pun cukup licin dan naik turun. Hal tersebut terbilang wajar karena lokasinya memang berada di hutan, namun yang disayangkan adalah persiapan dan koordinasi antara panitia dengan penonton kurang tertata dengan baik. Pada Hari-H tak jarang terjadi chaos di sekitar stage dan stand makanan.

(Sumber: Nabilla LG 9)
Tidak hanya itu, kendaraan yang disediakan di lokasi tidak dapat mengangkut seluruh penonton yang ada di LALALA Festival. Maka dari itu, penonton yang tidak mendapatkan fasilitas kendaraan harus turun dari lokasi dan menempuh jarak sekitar 1,5 km. Hal tersebut mengakibatkan kemacetan di sekitaran lokasi LALALA Festival hingga membuat kemacetan di daerah Cikole sampai Lembang. Kemacetan tersebut berlangsung dari pukul 01.00 AM sampai pukul 05.00 AM.
Peristiwa – peristiwa di LALALA Festival memberikan kesan tersendiri kepada seluruh pihak terlibat, baik kesan positif maupun negatif. Harapan ke depannya adalah penonton dan panitia dapat bekerjasama dengan baik di event selanjutnya. Bukan hanya panitia, penonton sebenarnya dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya untuk permasalahanan sampah, penonton dapat mengumpulkan sampah tersebut di suatu titik agar mempermudah pembuangannya atau melakukan inisiatif lainnya jika terjadi sebuah permasalahan, bukan hanya mengkritik namun juga membantu memperbaiki. Karena suatu kegiatan akan baik ketika semua pihaknya dapat bekerjasama. Begitu juga untuk panitia harus semakin kuat bekerjasama dalam membangun kenyamanan event. Semoga LALALA Festival selalu mempertahankan hal – hal baik dan dapat memperbaiki hal-hal kurang baik agar LALALA Festival dapat selalu menjadi event musik yang di tunggu – tunggu. (LG/Nabilla N.A.)
Editor: Sintya Z.A.
