Setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, tantangan berikutnya adalah berkarier di dunia kerja. Relevansi antara bidang studi yang diambil saat kuliah dan pekerjaan yang dijalani kerap kali menjadi perbincangan hangat di kalangan mahasiswa. Dalam G-News ini, dua alumni Agroteknologi angkatan 2019 yang juga merupakan alumni Persma Genera LG 11 dan LG 12, yaitu Ghaida Nur Hafizhah (Kak Ghaida) dan Mgs. Muhammad Royhan (Kak Han), berbagi pandangan mereka tentang bagaimana pendidikan berpengaruh terhadap karier, pentingnya Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), serta aspek lain yang penting saat mencari pekerjaan. Kak Ghaida dan Kak Han adalah lulusan program studi Agroteknologi dengan peminatan ilmu tanah. Saat ini, Kak Ghaida teleah bekerja selama 8 bulan di PT Pupuk Indonesia dalam divisi sales planning, sedangkan Kak Han sudah 2 tahun berkarier sebagai digital marketer di Buzzohero.
Relevansi pekerjaan dengan program studi yang diambil saat kuliah:
Kak Ghaida menjelaskan bahwa pekerjaannya di PT Pupuk Indonesia memiliki relevansi dengan bidang studi yang diambil, khususnya terkait produk pupuk yang dijual. “Ada relevansi karena di perusahaan aku menjual pupuk, dan aku saat kuliah ambil peminatan yang berfokus di kimia tanah. Namun, secara teknis, pekerjaan aku di bagian sales planning bermain dengan angka rencana penjualan dan program promosi yang sebenarnya secara pendidikan nggak aku pelajari di masa perkuliahan,” jelas Kak Ghaida.
Kak Han, yang kini bekerja sebagai digital marketer, menilai bahwa sekitar 20% dari bidang studi yang diambil saat kuliah yang relevan dengan pekerjaannya sekarang. “Kenapa 20%? Karena ada beberapa ilmu yang aku dapatkan saat kuliah seperti analisis data, yang membantu aku di pekerjaan sekarang,” ujar Kak Han.
IPK saat lulus dan pengaruhnya terhadap karier:
IPK seringkali menjadi indikator awal dalam proses rekrutmen sebuah pekerjaan, tetapi tentu dampaknya bisa berbeda-beda tergantung jalur karier yang akan diambil. Kak Ghaida mengatakan, “IPK aku 3,45 saat lulus. Untuk aku pribadi IPK jadi bahan evaluasi diri dalam takaran pemahaman mata kuliah yang aku ambil. Nilai IPK sendiri menurutku akan lebih banyak berpengaruh jika kita ingin mengambil karier di bidang akademis sebagai peneliti atau pengajar.”
Kak Han juga mengatakan, “IPK aku saat lulus 3,54. Menurut aku IPK itu sebagai bukti tanggung jawab kita sebagai mahasiswa untuk menuntaskan masa kuliah dengan baik. Pengaruhnya di dunia pekerjaan, IPK akan membantu kita untuk proses awal rekrutmen dan setelah itu tergantung diri kita masing-masing apakah kita mempunyai pengalaman, hardskill, atau softskill yang perusahaan inginkan. Secara garis besar pengalaman aku pribadi gelar cumlaude itu nggak berpengaruh karena meskipun dengan gelar cumlaude, aku nggak mendapatkan privillage apa-apa. Tetapi, mungkin di perusahaan-perusahaan lain ada yang mendapatkan privillage seperti itu.”
Faktor penting lainnya yang berpengaruh dalam mencari pekerjaan:
Kak Ghaida menjelaskan, “Salah satu poin penting menurut aku pengalaman organisasi karena jika kita punya pengalaman organisasi setidaknya kita tau gimana cara bersosialisasi, cara kita beretika mengobrol dengan atasan, bawahan atau partner kerja. Hal-hal yang seperti itu menurut aku didapatkan ketika kita ada di organisasi. Kemudian untuk ilmu-ilmu selain itu, balik lagi ke kita sendiri mau merencanakan karier yang seperti apa. Misalnya mau berkarier secara akademis yang lebih relevan dengan perkuliahan, kita bisa lebih aktif dalam mencari informasi mengenai penelitian-penelitian. Tetapi jika kita belum tau rencana karier kita mau seperti apa, menurut aku kita juga bisa lebih aktif mencari pengalaman yang melatih skill seperti cara bernegosiasi, berpikir kritis dan berkomunikasi dengan percaya diri juga didepan umum. Pengalaman magang umumnya bisa melatih skill tersebut.”
Kak Han berpendapat bahwa pengalaman magang memberi gambaran nyata tentang dunia kerja. “Pengalaman magang itu penting karena ibaratnya kita sudah terjun merasakan dunia kerja seperti apa. Selain itu, pengalaman organisasi juga penting karena saat kita mendaftar intern atau magang di suatu perusahaan, perusahaan akan melihat pengalaman kita saat masuk organisasi memegang projek apa, hasilnya seperti apa, dan bagaimana menuntaskan suatu masalah dalam projek tersebut.”
Pesan untuk KMFP dalam mempersiapkan life after collage:
Kak Ghaida: “Pesan dari aku untuk teman-teman KMFP perbanyak belajar, mencari kegiatan yang relevan. Selain itu, yang lebih penting perbanyak berpikir, berdiskusi, dan merencanakan jenjang karier yang kita inginkan seperti dimana? Di perusahaan apa? Di bidang apa? Agar nanti nya kita tidak terlalu bingung untuk memutuskan fokus pada organisasi, magang, atau hal lain.”
Kak Han: “Pesan aku nikmati dulu masa kuliah kalian saat ini, lalu ketika kalian mendapatkan sebuah kesempatan projek menurut aku ambil projek tersebut jika sesuai apa yang kalian mau. Yang terakhir, perbanyak relasi karena akan membantu kalian nantinya at least membantu CV kalian sampai ke tangan HR. Tetapi setelah itu tentu nya tergantung diri kalian sendiri apakah perusahaan tersebut cocok dengan kalian dan cocok dengan nilai jual yang bisa kalian jual ke perusahaan tersebut. Misalkan nanti nya karier kalian ternyata nggak sejalan dengan program studi yang kalian ambil saat kuliah, menurut aku jangan ragu untuk ambil pekerjaan itu tetapi jangan lupa untuk dibekali pengalaman magang ataupun dengan pengalaman sertifikasi karena akan membantu kalian yang mau berkarier diluar program studi yang diambil saat kuliah.”
Nah, setelah wawancara di G-News ini bagaimana menurutmu? Apakah kamu memiliki pendapat lain tentang peran IPK dan pengalaman dalam membangun karier?
Penulis: Salma Fitriani Wicaksono
Editor: Anisa Siti Hajar
