Site Loader

Dan hari lain, dimana waktunya habis sendiri. Terjadi kembali, dimana dunianya seakan berhenti sibuk. Atau kembali, ia hanya mengalami mimpi buruk. Terus menghantui mengirimkan sinyal bermakna dan panik. Tapi hari lain, kembali ia jalani. Dengan berguling di kasur atau turun sebentar ke dapur. Berpapasan dengan adiknya hanya menunjukan raut sendu. Nyatanya bukan hanya dia sendiri yang bingung. Bahkan ada satu dunia yang berkecimpung.

“Hari ini 300 orang, Kak” kata adiknya, tangannya tidak berhenti mengoles mentega diatas roti. Seakan memberinya pelindung setebal mungkin agar tahan dari ceres yang kemudian taburnya.

Yang diajak bicara, mendelik dan tidak bersuara. Batinya sudah lelah hingga ia sudah ada diposisi menyerah. Seluruh tenaganya semalaman ia gunakan untuk mengumpat, mengirimkan seribu surat benci untuk orang diluar sana yang masih tidak peduli. Faktanya ia suka berimajinasi, dari buku fiksi yang ia sukai. Benaknya terus terperanjat, apa ia akan memiliki faksi akhir taun ini?

Setelah segelas susu full cream ia tuangkan, perlahan ia berjalan kembali kedalam kerajaan. Kamar tidurnya, yang sudah tidak berbentuk dan semrawut. Dia meminum susunya seteguk, lalu dengan cemberut kembali ke kasur dan duduk. Dibukanya laptop kembali, diketiknya alamat website kembali. Bodo amat, bukan salahnya tugas yang menumpuk ia beri alasan tidak sempat. Bukan salahnya juga, di otaknya hanya ada penggalan orang-orang berbicara bahasa korea.

Entah salah siapa. Mungkin salah orang-orang diluar sana, yang tidak mau diam dan tetap dirumah. Mungkin juga salah orang sebrang, yang membuat si virus berkembang. Entah, siapa yang akan ditunjuk bersalah dan bertanggung jawab akan semua korban yang kembali ke tanah. Tapi hari ini juga besok, ia tetap tidak mau belajar dan mogok. Ia ingin diberi janji, kembali berlajar tanpa metode daring akan terjadi sebentar lagi.

“Hallo?” ujar dia, menyapa suara dari balik tangannya.

“Sumpah, bosen banget ya?!” balas temanya, suaranya nyaring namun entah tidak terasa bising. Padahal jika bertatap muka, mungkin bisa membuat telinganya berdering. Otak temannya kan miring.

“Gausah ditanya, hari ini aku tidur 12 jam.” balas dia, tidak berhenti meneguk susu dengan wajah sendu. Sedetik, ia berfikir temanya akan melihat dan ikut murung.

Temannya tertawa, “Huh, bodoh”.

Lalu dia ikut tertawa, suasananya dimana ia diejek malah membuatnya tidak lembek. Setidaknya, ada yang sama dan berasa disini. Ada yang bermakna, dari suara. Seakan langit tidak runtuh hari ini, tidak jatuh malam ini. Mungkin kenyataan bahwa ditahan dirumah masing-masing hanya membuat kita pusing. Mungkin, dengan adanya isolasi kita tidak punya kesempatan bersosialisasi. Tapi menurut dia, ada yang lebih penting. Fakta temannya masih mengelukan kata sinting, benar terasa tidak asing.

“Kangen ya, kuliah.” kata dia, lagi. Tidak benar-benar ingin mengakhiri.

Dan dengan temannya yang hanya menghela nafas, ia tau tetap ada yang berbeda. Nyatanya, mereka tidak yakin kapan bisa bertemu kembali. Apa besok hari, atau mungkin ketika dunia sehat kembali. Jangan keluar rumah, jangan keluar rumah. Selanjutnya dia terus berpesan itu pada temanya, yang sama-sama membalas dengan ramah. Jangan keluar rumah, Jangan keluar rumah. Kali ini kita harus terus mengikuti arah.

Semester ini, ada banyak yang direncanakan. Yang perlahan disusun bersama teman-teman. Atau kegiatan praktikum yang terus membuat bibir terkulum. Semester ini, dia sedikit menyesali tidak bisa lebih cepat unjuk gigi dan berani. Mungkin kalau tidak di nanti-nanti, semester ini bisa menggabulkan mimpi. Tapi dunia punya rencana, punya tujuan yang entah kapan terlihat bermakna. Sekarang, demi masa mendatang ada yang lebih penting dari semester ini dan sepucuk mimpi. Kita sehat dan kita kembali kuat.

Telepon tadi tidak berlangsung lama, ada tugas yang terpaksa menjadi tanggung jawab. Dan ibu yang meminta bantuan, masak dulu katanya. Suara temannya, sedikit memberinya warna. Ada yang masih bisa ia ajak bicara dan bercanda. Meski dunia miliknya sedang ada diujung tebing berbahaya. Walaupun caranya bukan tatap muka dan bercerita. Perlahan diterima keadaan, selamat adalah yang tujuan. Teman-temanya aman bersama keluarga, meski tidak bencengkrama sudah terasa sangat lama.

Imajinasinya, mimpinya akan dia tunda. Disimpan baik-baik dan dibuka ketika dunia kembali baik. Mungkin memang rasa sabar manusia yang diminta, dan jelas bukan untuk orang yang gemar melanggar. Dan besok hari, dengan duabelas jam yang dijalani. Ia akan tetap perlahan mengulurkan tangan, tidak akan menunjukan serangan. Karena telinganya tidak mau dimasukin nada sumbang tentang kabar nyawa yang sia-sia terbuang. Apalagi jika itu orang yang dia sayang.

Sehingga dengan raungan duka lara  yang merajalela, di rumah ia isolasi dirinya yang banyak tidak rela. Sehingga dengan terbukanya kembali ruang rahasia yang dia fikir tidak lagi ada, banyak ide asik yang terus membuat pintu kamarnya berderik. Tidak lagi diam atau dibuka hanya saat malam. Lalu keesokan hari, rintik duri tidak lagi menyertai langkah dan jari kaki. Ada sedikit lebih banyak rasa nyaman, tidak seperti saat permulaan.

Dan belajar untuk menerima yang ada, akan terus dilakukan. Dengan gejolak wabah yang sedang merekah. Maknanya mungkin terselip dan tak tersidik. Hingga kemudian ada hari, dengan pintu terbuka lebar dan semua dikendurkan. Akan ada hari ketika kekuatan yang dimiliki Indonesia mengusir semua duka lara dan masalah. Lalu disana, terletak buncahan rasa menggelora dan membahana. Bebas dan lepas, kuat dan tidak terikat.

Tentu maknanya lenyap jika cermin diri tidak diberi. Isi hati terus diikuti, benci dengan ini isolasi. Coba, tengok sekeliling. Mungkin semburan egois dapat ditepis. Dan semoga lingkungan keluarga menentang prasangka, lalu menjalankan perintah dan tidak merubah diri menjadi sampah.

 

Maret 2020


Ghaida Nur

Post Author: Persma Genera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×