Site Loader

Kalau kamu membaca kata mental illness, mungkin kamu akan langsung mengaitkannya dengan beberapa hal seperti psikiater, emosi tidak stabil, ticking bomb, butuh perhatian dan lain sebagainya. Itu masih membaca saja, bagaimana jika kamu menghadapinya langsung?

Stigma negatif dan mental illness layaknya kembar siam. Tidak terpisahkan. Bukan hal baru memang, tetapi keterbukaan informasi mengenai topik ini masih tergolong baru. Dalam sejarah panjangnya, mental illness merupakan satu hal tabu untuk disuarakan.

Alasannya? Tradisi. Tidak jauh berbeda dengan saat ini. Banyak negara yang mengaku negara sejahtera serta demokratis tetapi baik dalam stuktur sosial maupun undang-undangnya masih mengandung perlakuan yang diskriminatif bagi penderita mental illness.

Stigma ini seharusnya sudah lama hilang atau berganti.

Informasi mengenai mental illness sangat banyak. Tetapi, informasi-informasi ini membuat masyarakat mudah menilai negatif mereka yang menderita sebagai ‘orang berpenyakit mental’. “Dia mengidap skizofrenia”, “Hei, jaga omonganmu dia mengidap IED”, “Aku harus bagaimana, temanku seorang penderita mental illness“. Penulis membayangkan mendengar hal ini dalam sepatu penderita. Miris, rasanya semakin terpuruk dan merasa ditolak.

Mental illness merupakan bagian dari mental health, sama seperti penyakit fisik yang menjadi bagian dari kesehatan fisik. Szazs adalah seorang psikiater dan penulis berdarah Hungaria-Amerika.

The Myth of Mental Illness (1961) merupakan buku ke-36 yang ditulisnya meragukan pernyataan diatas. Di dalam buku itu beliau menyatakan bahwa mental illness hanya sebuah metafora belaka berbeda dengan penyakit fisik karena menurutnya pikiran tidak dapat sakit sedangkan fisik dapat terluka dan sakit sehingga mental illness bukanlah suatu penyakit secara harafiah.

Opini ini membuat perdebatan di lingkup psikater, ahli-ahli serta masyarakat yang menaruh perhatian dengan topik ini. Tapi, opini ini juga dapat dilihat dari sisi positifnya terutama dalam keadaan masyarakat saat ini.

Mental illness tidaklah benar adanya, jadi tidak ada orang yang bisa menunjuk seseorang dengan kontrol emosi yang kurang stabil sebagai penderita mental illness.

Orang cenderung menjauhi seseorang yang sakit tanpa mengetahui penyakit yang diajuhinya. Mungkin dengan adanya metafora mental illness memudahkan orang mengkotak-kotakkan penyakit. Mental illness itu penyakit mental, jauhi.

Dimulai dari kamu, ayo ubah cara berpikir. Mental illness is not an illness. Dan bukan wabah menular yang harus dijauhi. Mereka yang mendiagnosis diri atau yang menerima diagnosis mengidap ‘mental illness’ tidak lantas pantas dikecualikan dalam struktur sosial masyarakat.

Perlakukan manusia lain setara dan seimbang seperti manusia selayaknya. Hal ini wajib kamu lakukan setiap bertemu siapapun dengan keadaan apapun.

Kalau menurutmu mereka adalah bom waktu maka bom tidak akan meledak tanpa ada pemicu, seperti kesedihan dan stress tidak akan muncul jika tidak ada pemicunya. Kalau mereka adalah ledakan, maka ledakan juga dapat digagalkan, sama seperti mereka yang menderita dan mulai merasa tertekan. Just give a warm word and hug.

 I believe, people always have an on-off-button for everything he or she did. Turn off the bad side to turn on the good side for you and for them. Let’s make a world that safe for everyone who has right to stand by him/herself.

Take a good health, and goodbye mental illness metaphore.

Jatinangor, Maret 2020

Natasya Belinda

Post Author: Persma Genera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×