Faisal H. Basri merupakan seorang ekonom ternama Indonesia, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi defisit perdagangan pangan yang semakin memburuk dalam acara Dialek Tani pada Kamis (16/5/2024). Dialek Tani merupakan tempat atau wadah bagi warga KMFP maupun KEMA UNPAD untuk bertukar pikiran dan berdiskusi dalam membahas segala hal mengenai agraria nasional yang diselenggarakan oleh departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM KMFP UNPAD
Putri, Wakil Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategis, menggarisbawahi pentingnya ‘dialek tani’ sebagai wadah bagi warga KMFP dan KEMA UNPAD untuk menghadapi isu-isu pangan yang sedang hangat. Putri menjelaskan, “Dialek tani membuka pikiran kita tentang isu-isu penting mengenai agraria nasional yang sedang kita hadapi.”
Muhammad Fauzan, seorang staff dari BEM KMFP yang terlibat dalam kajian aksi dan strategis, menyampaikan analisisnya mengenai defisit perdagangan pangan. “Defisit terjadi saat impor lebih besar daripada ekspor,” ujarnya. “Sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya mampu memproduksi bahan pangan sendiri. Namun, pertanyaannya, apakah kita masih sanggup? Kita harus berpikir kritis tentang hal ini.”
Indonesia yang dikenal sebagai negara yang lebih banyak melakukan impor daripada ekspor, kini menghadapi tantangan besar terkait defisit pangan. Data menunjukkan bahwa impor beras tahun 2023 mencapai 3 juta ton, sementara Indonesia telah menjadi pengimpor gula terbesar di dunia sejak 2016, yaitu sebanyak 6 juta ton per tahun. Selain itu, seratus persen gandum diimpor, sebagian besar kedelai diimpor, serta jutaan ton garam juga diimpor.
Faisal Basri menjelaskan, “Indonesia juga menghadapi masalah lain seperti defisit minyak, defisit manufaktur, dan beban hutang negara yang diperkirakan mencapai 700 triliun pada tahun 2025. Cadangan minyak yang terus menurun juga menjadi hal serius. Di tengah tantangan ini, para mahasiswa dan pemuda Indonesia diharapkan untuk memberikan kontribusi nyata dalam mengembangkan sektor pertanian dan UMKM untuk meningkatkan produksi, kreativitas, dan inovasi lainnya.”
Haikal Febrian Syah merupakan ketua BEM UNPAD 2023 yang juga merupakan mahasiswa fakultas pertanian UNPAD, turut mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi defisit perdagangan pangan di Indonesia. Haikal menjelaskan yang seharusnya didorong oleh pemerintah adalah kemandirian pangan. Apa bedanya kemandirian pangan dengan ketahanan pangan? Jika pemerintah menggembleng kemandirian pangan, maka pemerintah seharusnya mendorong bagaimana upaya dalam meningkatkan produksi dalam negeri. Sedangkan ketahanan pangan merupakan upaya pemerintah yang berhak melegalkan apapun caranya untuk memenuhi pangan dalam negeri, contohnya impor.
Dengan demikian, defisit perdagangan pangan menjadi sorotan utama dalam menilai sektor pertanian Indonesia dan tantangan besar yang harus dihadapi untuk memastikan ketahanan pangan negara untuk kedepannya.
Penulis: Salma Fitriani Wicaksono
Editor : Haliza Fitriana
