Kekejaman Israel melakukan invasi terhadap Palestina kian hari kian memanas yang dimulai dari 7 Oktober 2023, saat pasukan bersenjata Palestina mencoba melawan balik penyerangan yang dilakukan Israel . Tapi sebelum memulai bahas lebih jauh alangkah baiknya meninjau sejarahnya terlebih dahulu, sejarah konflik antara Israel dan Palestina telah terjadi sepanjang abad ke-20 dan awal abad ke-21, dengan titik awal yang kompleks dan berlapis. Peristiwa penting termasuk Perang Arab-Israel 1948 yang menyebabkan pengusiran besar-besaran orang Palestina, pendudukan Israel atas wilayah Palestina sejak Perang Enam Hari pada tahun 1967, dan serangkaian serangan militer Israel terhadap wilayah Palestina, seperti Operasi Geguratan Batu pada tahun 1987 dan serangan-serangan di Jalur Gaza pada tahun-tahun berikutnya. Konflik ini disertai dengan korban sipil yang tinggi dan ketegangan internasional yang sering kali memuncak.

Invasi Israel yang terjadi pada 7 Oktober 2023 merupakan salah satu bab tergelap dalam konflik yang berkelanjutan antara Israel dan Palestina. Dengan menyimak sejarah panjang konflik ini, dari Perang Arab-Israel 1948 hingga serangkaian operasi militer Israel terhadap wilayah Palestina, seperti yang terjadi pada Jalur Gaza, kita menyaksikan ketegangan yang terus memuncak. Namun, invasi tersebut menandai titik terparah dalam hal korban jiwa, dengan dilaporkan lebih dari 31.045 orang tewas dan 72.654 lainnya terluka, sementara banyak rakyat Palestina terancam kelaparan akibat pembatasan bantuan kemanusiaan. Penolakan Israel untuk mengajukan gencatan senjata, terutama selama bulan Ramadan, menambahkan kompleksitas dan kepedihan bagi situasi ini. Penolakan ini di backup oleh beberapa negara besar layaknya america demi mendapatkan lautan Palestina yang berisikan minyak bumi.
Sebagai mahasiswa, penting bagi kita untuk menjadi sadar akan peristiwa ini dan menyadari bahwa setiap nyawa memiliki nilai yang tak ternilai. Meskipun kita tidak bisa berada di medan perang, kita masih bisa memberikan kontribusi dengan membela saudara-saudara kita yang berada di Palestina. Salah satu langkah awal yang dapat kita ambil adalah dengan melakukan boikot terhadap produk-produk tertentu yang mendukung kebijakan Israel. Produk-produk yang kita boikot dapat menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi Israel dalam melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Sebagai contoh, McDonald’s dikenal sebagai salah satu distributor makanan untuk tentara Israel. Dengan memboikot produk-produk semacam ini, kita bisa memberikan dukungan kepada korban-korban konflik dan menunjukkan solidaritas kita terhadap perjuangan mereka. Mari bantu sesama manusia dengan tindakan-tindakan sederhana ini, karena setiap kebaikan yang kita lakukan akan membawa dampak positif yang kembali kepada diri kita sendiri.
Penulis : Mochamad Megantara
Editor : Haliza Fitriana
