Jumat, 15 Agustus 2025 telah diselenggarakan Penerimaan Raya Mahasiswa Baru (Prabu) Unpad hari kelima sebagai penutup yang diisi dengan berbagai rangkaian yang berhasil memeriahkan acara puncak malam itu. Namun, hal tersebut tidak terlepas dari kontroversi yang timbul setelahnya. Saat rangkaian orasi yang disampaikan oleh Ketua BEM dari berbagai BEM fakultas hingga BEM KEMA UNPAD, beberapa di antaranya berhenti menggema secara terpaksa lantaran koneksi mikrofon yang terputus.
Kang Dandy, selaku Ketua BEM KMFP UNPAD, menyatakan perasaannya atas kejadian yang terjadi di hari terakhir Prabu 2025. Walaupun saat itu mikrofon Kang Dandy tidak dimatikan, ia merasa kesal karena melihat kawan-kawan ketua BEM dibungkam. Hal ini menjadi salah satu bentuk pembungkaman yang membatasi ruang berekspresi. Padahal dalam orasi tersebut beberapa isu-isu yang sedang terjadi disampaikan dengan sebaik mungkin. Kejadian ini dikhawatirkan berdampak pada rasa percaya mahasiswa baru, terutama salah satu isu yang dibahas adalah isu KIPK.
Kang Dandy menambahkan bahwa motif dari kejadian tersebut merupakan bentuk pembungkaman dari Unpad terhadap mahasiswa, selaras dengan apa yang dirasakan di lapangan. Menurutnya, Unpad seharusnya terbuka agar sejalan dengan salah satu nilai yang disampaikan, yaitu inklusif yang artinya mengedepankan keterbukaan. Mahasiswa seharusnya diberi inklusivitas itu sendiri sehingga tidak ada yang ditutupi antara pihak mahasiswa, dosen, dan pejabat.
Ia juga menilai tindakan tersebut berpotensi menciptakan iklim kampus yang tidak sehat, di mana mahasiswa merasa takut untuk menyampaikan aspirasi. Jika kebebasan berpendapat terus dibatasi, dikhawatirkan banyak mahasiswa Unpad enggan menyuarakan pandangan dan aspirasinya. “Ketika kampus sudah tidak ada ruang, lantas di mana lagi kita bisa menyampaikan pandangan dan pemikiran secara bebas?” tegas Kang Dandy.
Selain itu, BEM juga menyoroti munculnya sexist jokes pada hari pertama dan kelima PRABU yang dinilai tidak pantas ditampilkan di acara resmi kampus. “Unpad sudah menjadi salah satu kampus top 10 nasional, tapi justru menampilkan candaan seksis di panggung PKKMB. Hal ini merusak kesan pertama mahasiswa baru, terutama mahasiswi, yang seharusnya disambut dengan rasa aman dan nyaman,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, BEM berkomitmen untuk terus mengawal isu-isu yang sempat disuarakan dalam orasi. Isu-isu itu mencakup KIPK, ruang aman, serta kebebasan berekspresi di lingkungan kampus. “Kita akan mengawal tuntas semua isu tersebut dan terus memperjuangkan hak-hak mahasiswa,” tegas Kang Dandy.
Sebagai penutup, Kang Dandy mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak takut dalam menyuarakan pendapat. “Mahasiswa Unpad tidak akan pernah sendiri. Selalu ada teman dan BEM yang siap membersamai perjuangan,” ungkapnya.
Penulis: Atikah Khairunisa (LG 16), Rosa Rini (LG 15)
Editor: Anisa Siti Hajar (LG 15)
