Site Loader

Merdeka Belajar – Kampus Merdeka, sudah marak terdengar dari awal tahun 2020 lalu dan sudah berjalan memasuki semester kedua di seluruh perguruan tinggi. Kebijakan MBKM ini sesuai dengan Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang memiliki tujuan agar dapat mewujudkan proses pembelajaran di perguruan tinggi yang fleksibel dan otonom sehingga seluruh perguruan tinggi dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang inovatif. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (2020) mengatakan bahwa kebijakan ini diterapkan untuk meningkatkan link and match dengan dunia usaha dan dunia industri serta mempersiapkan mahasiswa dalam dunia kerja sejak awal.

Konsep Kampus Merdeka yang dicanangkan Mendikbud Nadiem mendapat respons dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, salah satunya Universitas Padjadjaran. Kampus ini bersedia melakukan pembenahan dan penyesuaian agar visi Kampus Merdeka dapat diraih dengan baik. Kebijakan yang baru ini tentunya menimbulkan banyak sekali komentar dari banyak kalangan, mulai dari dosen hingga mahasiswa itu sendiri. Komentar tersebut diutarakan langsung oleh mahasiswa yang menjalani program Kampus Merdeka, mulai dari yang tidak terlalu berjalan lancar hingga yang sudah mendapatkan dampak baik.

Kampus Universitas Padjajaran
sumber: kampusaja.com


Ketua Program Studi Agroteknologi Unpad, Muhammad Amir Solihin, SP., MT., menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan pola baru dalam sistem pembelajaran perguruan tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, akan ada beberapa hal yang harus disesuaikan dan dibenahi, mulai dari kurikulum, fasilitas, dosen, dan sebagainya.

“Karena kebijakan yang muncul secara nasional dan harus segera diimplementasikan itu harus ada turunan-turunannya sehingga menjadi jelas dan ada pedoman secara lebih operasional di tingkat bawah (pelaksana). Ini merupakan konsekuensi ketika harus segera dilaksanakan, tetapi karena beberapa hal belum memadai, otomatis akan ada beberapa hal yang belum bisa berjalan sesuai yang diinginkan. Meskipun demikian ada juga yang bergerak cepat menyesuaikan diri walau dengan kondisi adanya kelemahan-kelemahan di dalam pelaksanaannya. Kita ikuti saja, menyesuaikan jika ada kelemahan kita akan senantiasa mengevaluasi,” urai Pak Amir dalam wawancara, Jumat (7/5/2021).

“Waktu milih agak kacau sih jujur,” lugas seorang mahasiswa angkatan 2018 Fakultas Ilmu Komunikasi yang mengikuti pembelajaran Kampus Merdeka antar-prodi. Ia diharuskan untuk memilih mata kuliah lintas prodi seperti yang ada di kualifikasi pembelajaran Kampus Merdeka agar memenuhi syarat SKS meskipun banyak kendala, seperti kuota yang penuh pada setiap kelas hingga harus berebutan. Tidak sedikit mahasiswa yang berkeluh kesah dengan penerapan pembelajaran Kampus Merdeka ini. Mulai dari segi pemaparan pembelajaran ini yang mencanangkan bahwa mahasiswa akan mendapatkan privilege beberapa kegiatan di luar kampus seperti pertukaran pelajar, studi/proyek independen, magang/praktik industri, dan lima kegiatan lainnya. Ia berkomentar bahwa tentunya harus ada kegagalan terlebih dahulu agar dapat menjalankan ini dengan baik, “Walaupun tidak mengenakan jika harus dijadikan kelinci percobaan,” sarkasnya.

Ketidaknyamanan ini tidak dirasakan oleh semua mahasiswa yang mengikuti pembelajaran Kampus Merdeka. Ardian, mahasiswa angkatan 2018 Fakultas Pertanian yang mengikuti pembelajaran Kampus Merdeka antar-prodi berkata sebaliknya, “Selama berjalan satu semester ini kalau dari kendala, tidak ada masih berjalan dengan bagus. Hanya saja sistematika belajarnya saja yang berbeda dari Faperta, khususnya agribisnis.” Ardian menjelaskan bahwa ia mengambil mata kuliah yang berkesinambungan dan menuai pembelajaran yang sangat baik. Penerapan sistem belajar mengajar yang tidak bisa didapatkan di Faperta, didapatkan saat belajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang lebih terstruktur dan teratur.

“Beberapa prodi sudah berjalan dalam sistem perkuliahan juga sudah sesuai dengan yang diharapkan tentunya ini menunjukan bahwa kita sudah siap dalam melaksanakan Kampus Merdeka, tapi kembali karena kita adalah universitas yang besar dengan prodi, mahasiswa, dan dosen yang banyak serta memiliki karakternya masing-masing menjadi PR besar untuk sedikit demi sedikit bisa melaksanakan secara keseluruhan,” sebut Pak Amir dengan tegas.

Tidak sama rata merupakan kalimat yang tepat untuk mendefinisikan hal yang terjadi pada MBKM di Unpad ini. Masih diperlukan banyak evaluasi dan penyempurnaan dalam setiap aspeknya. Pemberian informasi yang transparan juga diperlukan agar setiap mahasiswa dapat mengerti dan mengetahui betul apa yang akan mereka hadapi. Kesiapan Unpad dalam pembelajaran MBKM ini tentunya masih perlu banyak perkembangan dan memerlukan waktu yang tidak sedikit. Dengan demikian, dibutuhkan penerapan yang merata dari setiap prodi. Tidak lupa, semoga seluruh kegiatan yang dicanangkan dapat berjalan sesuai dengan apa yang setiap mahasiswa sudah harapkan, khususnya mahasiswa hanya berharap agar tidak dipersulit, mengingat yang mengambil pembelajaran Kampus Merdeka ini adalah mahasiswa yang sudah menyelesaikan 4 semester.

Penulis: Vetty Mellynowski dan M Restu Alfarisy
Editor: Andara Melati R dan Nurhaliza Chairindah

Post Author: Persma Genera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×