Kesibukan di kampus, magang, dan kehidupan pribadi cukup membuat stres. Jika dibiarkan berlarut-larut, hal tersebut dapat menjadi pemicu burnout syndrome, lho.
Lalu, burnout itu apa, sih?
Menurut Masach dan Schaufeli (2008), burnout merupakan keadaan di mana seseorang mengalami kelelahan baik secara fisik maupun emosional yang menyebabkan berkembangnya konsep diri ke arah negatif, berkurangnya konsentrasi, dan sikap kerja yang buruk.
Secara sederhana, burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi stres berat yang dipicu oleh pekerjaan. Burnout perlu diatasi dengan tepat karena mempengaruhi kesehatan fisik dan mental.
Burnout syndrome banyak terjadi pada orang yang sering memaksakan diri untuk terus bekerja tanpa mengapresiasi diri sendiri sehingga merasa memiliki beban yang sangat berat.
Dilansir dari Alodokter, orang yang merasakan burnout syndrome umumnya memiliki ciri-ciri:
• Hilangnya semangat kerja
Bekerja tanpa ada semangat dapat menguras banyak energi sehingga memicu kelelahan.
• Membenci pekerjaan
Burnout menyebabkan seseorang menjadi sulit berkonsentrasi, merasa tidak kompeten dan terbebani sehingga akhirnya membenci pekerjaan yang sedang digeluti.
• Berkurangnya produktivitas
Hal ini dipicu oleh hilangnya semangat kerja sehingga hasil yang didapat tidak sesuai dengan target dan ekspektasi.
• Mudah marah
Akibat dari hasil pekerjaan yang tidak sesuai dengan ekspektasi, orang yang merasakan burnout cenderung mudah marah.
• Mudah sakit
Burnout yang terjadi terus menerus dan tidak diatasi dengan baik dapat menurunkan imunitas tubuh sehingga rentan terkena berbagai macam penyakit.
Jangan khawatir jika kamu mengalami burnout karena setiap orang pernah merasakan hal serupa. Berbagai penelitian telah dilakukan oleh para ahli agar kita bisa bangkit kembali prima.
Selama burnout, tubuh perlu motivasi untuk merangkak keluar dari fase tersebut. Dalam fase inilah psikis benar-benar memerlukan motivasi untuk bisa bangkit. Salah satu caranya adalah dengan bercerita seputar hal yang dihadapi kepada rekan, sahabat, atau orang terdekat.
Dengan begitu, kita berhasil meringankan sedikit beban dalam tubuh. Setelah itu, tanam baik-baik dalam benak bahwa dirimu telah melakukan segala yang terbaik dan tidak ada salahnya untuk mengapresiasi diri sendiri.
Mengapresiasi diri sendiri termasuk penting karena dapat memperbanyak hormon dopamin dan serotonin untuk meningkatkan mood. Setelah itu, perlu untuk mengatur pola pikir dan bersikap realistis. Sikap realistis membantu menurunkan ekspektasi pada berbagai hal sehingga menurunkan tingkat kecemasan.
Sekarang, bangkit! Saatnya mengubah gaya hidup yang dapat membuat diri bosan karena dilakukan terus menerus. Perubahan yang dilakukan adalah mengatur pola tidur, makan yang sehat dan bergizi, hingga olahraga teratur. Sehingga, tubuh akan merasa jauh lebih fresh dan siap menghadapi tantangan baru.

Sumber: unsplash.com
Tak hanya itu, kamu juga bisa mengambil cuti atau liburan untuk menenangkan diri. Hal ini dapat membuat pikiran jernih, semangat, dan motivasi untuk diri sendiri, sehingga meningkatkan hormon endorfin dalam tubuh.
Setelah beradaptasi dengan pola hidup yang baru, keseimbangan pola hidup tersebut perlu dijaga. Jangan lupa untuk istirahat sejenak jika lelah, jangan sungkan mengapresiasi diri sendiri dengan pergi berbelanja, dan jangan takut untuk menjelajah tempat baru jika itu memang mengasyikan!
Selama burnout memang sering merasakan hilang motivasi. Untuk bangkit, kamu perlu percaya pada dirimu, kenali dirimu, dan menyayangi diri sendiri. Dengan begitu, kamu akan tahu kemampuan yang bisa kamu lakukan dan tidak ada salahnya berhenti sejenak untuk istirahat jika memang melelahkan.
Oleh: LG 12 / Rheida Fayza Islasorna Aurell
LG 11 / Muhammad Haikal
Editor: LG 11 / Nisrina Salsabila
