Site Loader
Gambar 1 Social Distance
Sumber: https://pixabay.com/

 

2 Maret 2020, kasus positif COVID-19 pertama diumumkan di Indonesia. Peningkatan kasus positif terinfeksi virus Corona yang signifikan setiap harinya membuat pemerintah mengeluarkan imbauan untuk melakukan social distancing yang melahirkan kebijakan baru, yaitu belajar dari rumah, bekerja dari rumah, bejuga bribadah di rumah.

Social distancing (jaga jarak) merupakan cara untuk menjaga diri sendiri dengan menghindari kerumuman orang banyak dengan tujuan memutus rantai penyebaran virus corona. Akan tetapi, sebagian orang salah mengartikan social distancing sebagai isolasi sosial. Hal ini sedikit-banyak akan berpengaruh pada sisi psikologis.

WFH dan stigma isolasi sosial membuat manusia sangat jauh dari kontak sosial secara langsung. Bagi sebagian orang, social distancing merupakan angin segar karena bisa menjadi waktu istirahat yang aman, namun bagi sebagian orang lainnya, hal ini justru merupakan petaka karena tidak bisa bertemu dengan orang-orang seperti biasanya.


Kontak sosial secara langsung yang semakin terbatas bisa memengaruhi kesehatan mental, bahkan dapat memicu kecemasan seseorang meningkat. Jika mengarah lebih jauh, kecemasan tersebut bisa berbuah hipokondriasis.


Hipokondriasis merupakan kondisi ketika seseorang merasa terpaku pada ketakutan jika dirinya memiliki penyakit serius. Ada keyakinan bahwa ada sebuah gejala yang dirasakan olehnya mengenai tanda-tanda penyakit medis yang sangat serius, padahal ketakutan tersebut tidak ada dasar medis sehingga selalu ada kecemasan dalam diri.

Hipokondriasis dapat didiagnosa jika intensitas kecemasan sudah sangat tinggi (menganggu produktivitas dan sosialisasi). Selain itu, gejalanya pun sudah muncul dalam jangka waktu tertentu secara berturut-turut dan berkelanjutan. Saat pandemi COVID-19 selesai, gejala hipokondriasis akan ikut hilang.

Solusi dari dampak social distancing dalam sisi psikologis dapar teratasi oleh 3 hal, yaitu menyeimbangkan waktu dengan kegiatan lain, mengatur pola pikir agar senantiasa berpikir positif, dan melakukan kegiatan positif yang menyehatkan secara rutin.

Gambar 2 Belajar Memasak
Sumber: https://pixabay.com/

Menyeimbangkan waktu dengan menggunakan kegiatan lain dapat dilakukan dengan mencari kegiatan yang bermanfaat dan positif, meskipun tetap perlu memantau perkembangan kasus di lingkungan sekitar. Contohnya adalah membuka hiburan lain mulai dari mendengarkan podcast, belajar memasak, dan menonton video-video komedi.

Mengatur pola pikir agar senantiasa berpikir positif dapat dilakukan dengan mengarahkan diri untuk rajin membaca segala informasi atau berita positif terkait COVID-19. Jika setiap kali membaca pembahasan COVID-19 merasa cemas dan mulai stress, sebaiknya berusahalah untuk tetap tenang.


Melakukan kegiatan positif yang menyehatkan secara rutin sangat perlu dilakukan. Hal tesebut dapat dilakukan dengan olahraga teratur. Badan yang rileks serta segar akan membantu pikiran menjadi lebih tenang. Olahraga dapat dilakukan dari rumah, contohnya dengan melakukan gerakan-gerakan kebugaran jasmani.

Social distancing memberikan dampak yang berbeda-beda bagi setiap orang. Dari kesiapan, dan cara menghadapinya pun berbeda-beda. Tapi jangan menjadikan kegiatan orang lain sebagai tolak ukur ya, Sobat Genera. Kita juga boleh rehat dan tidak selalu harus melakukan kegiatan yang dilakukan orang banyak. Walaupun keadaan ini mengajarkan kita untuk terbiasa dengan jarak, semoga tidak membuat hubungan kita menjadi berjarak. Mari ikuti protocol kesehatan dan tetap menjaga lingkungan sekitar, dan yang paling penting, dimulai dari diri sendiri. (Calon LG 11/ Yukta, Fira dan Fajar)

 

Editor : LG 9/Saskia

Post Author: Persma Genera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

×