
Ritme hidup yang serba cepat sering membuat jeda dianggap sebagai kemunduran. Banyak orang merasa harus terus bergerak, terus produktif, dan terus mengejar target. Padahal, jeda justru memberi ruang untuk memahami diri, merapikan pikiran, dan menata ulang arah. Dari proses itulah seseorang bisa bertumbuh dengan lebih sadar. Perasaan ini dapat terasa jelas saat mendengarkan lagu “33x” dari Perunggu. Lagu ini tidak mengajak untuk berhenti sepenuhnya, tapi mengingatkan bahwa melambat sebentar itu wajar dan perlu. Lewat lagu “33x”, Perunggu membuka ruang refleksi yang dekat dengan kehidupan mahasiswa dan generasi muda yang sering terjebak dalam tuntutan untuk selalu bergerak cepat.
Lagu “33x” adalah salah satu karya penting dari Perunggu, band rock alternatif asal Indonesia yang terbentuk pada 2019. Perunggu beranggotakan Maul Ibrahim sebagai vokal dan gitar, Adam Adenan pada bass dan keyboard, serta Ildo Hasman di drum. Band yang kerap disebut “band rock pulang kantor” ini awalnya bermula dari rutinitas mereka latihan sepulang kerja. Album perdana perunggu berjudul Memorandum dirilis pada 11 Maret 2022, dan lagu “33x” menjadi bagian dari album tersebut. Durasi lagunya sekitar 7 menit, cukup panjang, tetapi justru memberi ruang untuk pendengar benar-benar masuk ke suasana lagu. “33x” kini menjadi lagu Perunggu dengan jumlah pendengar terbanyak di Spotify. Album kedua mereka baru saja dirilis di pertengahan tahun 2025 ini, meski merintis karir sambil bekerja kantoran, Perunggu berhasil menghadirkan warna baru di belantika musik Indonesia melalui lirik yang kuat dan aransemen rock yang emosional.
Judul “33x” bukan sekedar angka. Dalam tradisi Islam, angka 33 lekat dengan hitungan zikir setelah salat, yaitu membaca Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing sebanyak 33 kali. Karena itu, judul “33x” sering dikaitkan dengan praktik zikir tersebut. Perunggu mengambil inspirasi dari tradisi tersebut lalu mengolahnya dengan cara yang lebih dekat ke kehidupan sehari-hari. Lagu “33x” kerap disebut sebagai lagu religius, tetapi dengan sudut pandang yang realistis dan membumi. Tidak hanya menyorot hubungan manusia dengan Tuhan, lagu ini juga melihat hubungan antar manusia sebagai bagian dari iman itu sendiri. Dengan pendekatan seperti ini membuat “33x” terasa sangat personal, seolah lagu ini hadir sebagai ruang curhat sunyi setelah seseorang selesai menenangkan diri.
Salah satu pesan paling kuat dalam “33x” adalah soal pentingnya memberi jeda saat memang dibutuhkan. Lirik “Melamban bukanlah hal yang tabu, kadang itu yang kau butuh” secara jelas menegaskan bahwa melambat bukan tanda kalah atau lemah. Perunggu mengajak pendengarnya untuk tidak terus-terusan buru-buru di tengah hidup yang serba cepat. Pesan ini sejalan dengan penelitian oleh Qi et al. (2019) yang menyatakan bahwa otak manusia bekerja seperti smartphone, jika dipaksa terus menerus aktif tanpa jeda, performanya akan menurun. Istirahat bukan sekedar tambahan, tetapi kebutuhan agar pikiran tetap tajam dan seimbang. Ketika jeda tidak diberi ruang kelelahan mental akan menumpuk tanpa disadari. Karena itu, “33x” menekankan bahwa mengambil waktu untuk berhenti sejenak, merenung dan menenangkan diri bisa membantu proses reset batin. Lirik lainnya seperti “Tak perlu kau berhenti kurasi, ini hanya sementara, bukan ujung dari rencana” juga memperkuat gagasan bahwa jeda bukan dari akhir perjalanan. Jeda hanya fase yang memberi ruang untuk bernapas, memahami diri, dan bertumbuh dengan lebih sadar sebelum melanjutkan langkah berikutnya.
Pesan tentang jeda dan proses bertumbuh dalam lagu “33x” menemukan ruang hidupnya sendiri di kalangan pendengar, khususnya di media sosial. Lagu ini kerap dijadikan backsound di berbagai platform seperti TikTok dan Instagram, terutama pada konten yang menggambarkan fase kegalauan, kebingungan arah hidup, kelelahan mental, hingga kebutuhan untuk mengambil jeda sejenak. Fenomena ini menunjukka bahwa pesan yang disampaikan Perunggu tidak berhenti pada makna personal pencipta lagu, tetapi beresonansi luas dengan pengalaman kolektif generasi muda. Banyak pendengar merasa bahwa “33x” mewakili kondisi batin mereka ketika berada di titik lelah, tetapi belum siap menyerah. Lagu ini hadir sebagai teman sunyi yang memvalidasi perasaan tidak baik-baik saja, sekaligus mengingatkan bahwa jeda adalah bagian wajar dari proses bertumbuh, bukan kegagalan. Relevansi ini sejalan dengan pemaknaan lirik “melamban bukanlah hal yang tabu” yang sering dikutip dan digunakan ulang oleh pendengar sebagai representasi fase hidup yang penuh ketidakpastian.
Di luar ajakan untuk melambat dan menenangkan diri, lagu “33x” juga memuat dorongan kuat untuk kembali melangkah setelah jeda diambil. Pada bagian akhir lagu, Perunggu menyampaikan pesan reflektif yang mendorong pendengar untuk kembali bergerak setelah jeda diambil. Lirik “terus berenang, lanjutlah mendaki” menjadi simbol tindakan nyata setelah fase melambat. Berenang dan mendaki sama-sama menggambarkan proses yang membutuhkan tenaga, kesabaran, dan konsistensi, tetapi juga menunjukkan arah maju. Pesan ini menegaskan bahwa jeda bukan tujuan akhir, melainkan bekal untuk melanjutkan perjalanan dengan kesadaran yang lebih utuh. Setelah pikiran dirapikan dan batin ditenangkan, seseorang diharapkan mampu kembali menghadapi hidup dengan langkah yang lebih mantap. Dengan demikian, “33x” menawarkan keseimbangan antara menerima kelelahan dan menumbuhkan keberanian untuk terus melangkah. Lagu ini menjadi pengingat bahwa bertumbuh tidak selalu tentang berlari kencang, tetapi tentang tahu kapan harus berhenti, dan kapan harus kembali bergerak dengan lebih kuat dan penuh makna
Penulis : Ixora Myiesha A, Rosa Rini
Referensi :
Asnurida, R. (2025, Juli 21). Lirik dan makna lagu 33x – Perunggu. Diakses dari
https://www.idntimes.com/hype/entertainment/lirik-lagu-33x-perunggu-00-96c7y-bspw5v
Qi, P., Gao, L., Meng, J., Thakor, N., Bezerianos, A., & Sun, Y. (2019). Effects of Rest-Break on Mental fatigue recovery determined by a novel temporal brain network analysis of dynamic functional connectivity. IEEE Transactions on Neural Systems and Rehabilitation Engineering, 28(1), 62–71. https://doi.org/10.1109/tnsre.2019.2953315
Wilda, A. (2022, Maret 17). Memorandum tiga pekerja urban bernama Perunggu -Pophariini. Diakses dari https://pophariini.com/memorandum-tiga-pekerja-urban-bernamaperunggu/ Pradipta, N. (2023). Tentang “33x”-nya Perunggu dan hal-hal yang terjadi belakangan ini. Medium. https://medium.com/@npradipta/tentang-33x-nya-perunggu-dan-hal-hal-yang-terjadi-belakangan-ini-5328992d69f9Ihya
Tirta, M. (2023). Bukan sekadar angka: Filosofi di balik lagu “33x” Perunggu. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/muhammadihyatirta/6830123fc925c44a58012822/bukan-sekedar-angka-filosofi-dibalik-lagu-33x-perunggu
