Inovasi olahan makanan dari tahun ke tahun selalu berkembang. Namun, mengapa kecukupan gizi penduduk di Indonesia masih memprihatinkan?
Bentuk inovasi dalam makanan semakin beragam dari tahun ke tahun, termasuk dalam hal tampilan, komponen bahan, dan tentu saja rasa. Namun sayangnya, banyak makanan yang populer saat ini cenderung kurang memperhatikan kandungan gizi di dalamnya. Kandungan gula, natrium, dan lemak seringkali mendominasi, yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan yang terabaikan.
Masyarakat Indonesia seharusnya sudah paham akan pentingnya memperhatikan kandungan gizi dalam makanan yang mereka konsumsi. Penting untuk mendapatkan asupan makanan yang baik dengan nutrisi yang kompleks, termasuk karbohidrat, protein, lemak, vitamin, kalsium, mineral, serat, dan air sesuai dengan pedoman agar dikonsumsi dalam batas yang tepat.
Dilansir dari laman databoks.katadata.co.id, data yang diterbitkan pada Selasa (12/07) 2022 menunjukkan rata-rata jumlah penduduk yang mengalami kurang gizi di Asia Tenggara antara tahun 2019-2021. Hasilnya, Indonesia menduduki peringkat pertama dengan 17,7 juta penduduk atau sekitar 6,5% dari populasi nasional yang menderita kekurangan gizi. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara di bawahnya, seperti Thailand yang memiliki 6,2 juta penduduk yang mengalami masalah serupa.
Masalah ini menggambarkan bahwa perilaku dan budaya makan sangat berpengaruh terhadap tingkat kecukupan gizi harian. Slogan kuno “4 sehat 5 sempurna” yang telah lama melekat dalam budaya makan di Indonesia seharusnya tidak lagi digunakan atau dikampanyekan, karena tidak cukup relevan untuk mengakomodir perkembangan ilmu gizi yang lebih baru.
Adanya kampanye baru mengenai pedoman gizi yang diperkenalkan oleh Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2018, diharapkan dapat diikuti dengan mudah untuk mengurangi masalah gizi seperti stunting, wasting, overweight, dan underweight di Indonesia. Kampanye baru ini dikenal dengan nama “Isi Piringku”.

Sumber: kesmas.kemkes.go.id
Pada infografis, terlihat bahwa “Isi Piringku” adalah pedoman porsi komponen bahan makanan dalam satu piring, terdiri dari sekitar 35% makanan pokok, 15% lauk pauk, 35% sayuran, dan 15% buah-buahan. Penting untuk tidak mengabaikan 3 pesan lainnya, yaitu mencuci tangan dengan sabun, beraktivitas fisik selama 30 menit setiap hari, dan memenuhi kebutuhan cairan dengan minum 8 gelas per hari.
Konsumsi makanan olahan yang mengandung komponen nutrisi berlebih dengan porsi yang sesuai tetap diperbolehkan, asalkan pola makan yang teratur tetap diterapkan. Dengan “Isi Piringku” sebagai pedoman, budaya makan di Indonesia dapat berubah. Ini berpotensi untuk mengurangi masalah kekurangan gizi di antara penduduk Indonesia, yang pada gilirannya akan membantu mengatasi gangguan pertumbuhan dan perkembangan tubuh.
Penulis: Nisa Auliya
Editor: Haliza Fitriana
